ANALISA
RESIKO PENGGUNAAN NANOTEKNOLOGI PADA INDUSTRI PANGAN
Masalah Terbesar Untuk Hal-Hal Terkecil
Nanoteknologi
merupakan teknologi yang sangat berguna dan ampun, serta meiliki kelebihan dan
bahaya. Nanoteknologi membuka sebuah inovasi pada industri pangan dan
berpotensi merevolusi sistem pangan (Scott, 2005). Setelah teknik genetik,
nanoteknologi merepresentasikan teknologi terbaru yang berusaha memasuki bidang
persediaan pangan. Beberapa peneliti telah memperingatkan bahwa nanoteknologi,
memanipulasi ukuran atom dan molekul, memperkenalkan bahaya serius pada
kesehatan manusia dan lingkungan. Nanoteknologi memudahkan peneliti dan ilmuan
untuk meningkatkan produk pangan yang telah ada dalam rangka untuk menghasilkan
produk yang lebih sehat dan bernutrisi. Tetapi, dengan tidak adanya perebatan
publik, pangan yang dimanufaktur menggunakan nanoteknologi yang tidak dilabeli,
mulai muncul di pasar.
Nanoteknologi
menawarkan peluang baru dalam sektor pangan. Contohnya, nanoteknologi bisa
mengarahkan pada pemproduksian bahan tambahan, pewarnaan makanan, rasa dan
nutrisi yang lebih ampuh pada pemprosesan pangan; untuk mendesain kemasan
cerdas yang dapat memperingatkan konsumer apakah makanan tidak aman lagi untuk
dimakan; untuk mengembangkan sensor terbaru atau alat yang mampu unyuk
memonitor hama dan perkembangan hasil panen serta untuk meningkatkan keamanan
pangan dengan mendeteksi bakteri patogen yang ada didalam makanan untuk makanan yang
akan dihidangkan.

Potensi aplikasi nanoteknologi
melalui rantai makanan dari produski pangan utama sampai konsumsi, yang mungkin
memerlukan pertimbangan pada aspek-aspek keamanan pangan yang bertujuan untuk melindungi
kesehatan konsumen. (Sumber FAO dan WHO)
Meskipun
nanoteknologi telah bermanfaat dalam sektor pangan, konsekuensi penuh dari
penggunaan nanoteknologi masi belum diketahui. Ciri-ciri nanomaterial yang
ditunjukkan hanya pada skala nano, bukan pada skala mikro dapat berujung pada
hasil keamanan dan risiko yang tak terduga. Dengan demikian, produk yang berguna
dari nanoteknologi bisa jadi berbahaya dan mengakibatkan masalah yang tidak
diinginkan. Beberapa nanomaterial yang digunakan di industri pangan tampaknya
memiliki risiko potensial terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Sebagai
contoh, risiko potensial dari nanomaterial dapat terperangkap di lingkungan
(udara); dan dapat merusak jaringan otak, kulit, dan paru-paru manusia (Balbus,
Denison, Florini, dan Walsh, 2005).
A. Resiko kesehatan
Penggabungan dari
partikel-partikel berukuran nano meningkatkan resiko pada orang-orang yang
terpapar pada alat yang baru dibuat dan material yang mengandung nanopartikel.
Dampak dari nanopartikel yang mana dapat langsung masuk ke dalam sel dan pada
akhirnya akan mempengaruhi keberfungsian selular dari sel, tergantung pada
ciri: bentuk partikel, ukuran dan permukaan. Dikarenakan ukurannya nano,
partikel-partikel ini dapat bertranslokasi diantara organ setelah memasuki
tubuh.
Karena ukurannya
yang kecil, nanopartikel menunjukkan reaksi yang berbeda dibanging dengan zat
sejenis dengan ukuran yang lebih besar, yang mana nanopartikel lebih adesif
pada permukaan didalam tubuh kita, nanopartikel dapat menimbulkan dampak racun
terhadap tubuh kita, yang dampaknya tidak terlihat ketika zat tersebut
berbentuk zat yang lebih besar (bukan berbentuk nano), karena nanopartikel
lebih mudah untuk masuk kedalam sel dibandingkan dengan partikel yang lebih
besar. Penggunaan nanosilver secara umum dapat meningkatkan resiko pada
kesehatan manusia dengan meningkatkan resistensi bakterial dan antibiotik
sebagai mobilitas dari nanopartikel dalam tubuh manusia yang tidak diketahui.
Ada 3 cara nanopartikel dapat masuk ke dalam tubuh manusia, yang pertama
melalui pemaparan dermal yang mana nanopartikel bisa masuk ke dalam kulit dan
berinteraksi dengan sistem imun; penelanan melalui mulut.
B. Resiko lingkungan
Penggunaan
nanopartikel secara meluas, tidak hanya berdampak pada kesehatan manusia tapi
juga pada lingkungan. Penggunaan nanopartikel pada industri pangan telah
memaparkan pada kontaminasi lingkungan. Produk pangan yang terkontaminasi
nanopartikel yang tidak sengaja terlepas ke lingkungan sebagai polutan. Polusi
disebabkan oleh nanopartikel lebih sulit untuk dihidangkan karena ukurannya
yang kecil, metode tradisional dan filter yang digunakan mungkin saja tidak
bisa digunakan. Antimikroba nanopartikel yang paling berbahaya bagi lingkungan
seperti : nanosilver, zink oksida, dan titanium dioksida, yang mana makin
banyak digunakan dalam kemasan makanan.
Kesimpulan
Nanoteknologi
memiliki potensi untuk merevolusi industri pangan dengan meningkatkan kualitas
makanan, membuatnya lebih enak, lebih sehat dan lebih bernutrisi, untuk
memproduksi produk pangan baru, kemasan baru, dan penyimpanan. Namun,
kesuksesan pengaplikasian nanoteknologi pada pangan terbatas layaknya banyak
pengaplikasian yang masi pada tahap dasar dan membutuhkan penelitian Lanjutan
untuk mencapai potensi maksimal. Nanoteknologi dalam industri pangan bisa
digunakan untuk meningkatkan warna makanan dan tekstur, untuk mereduksi lemak,
dan meningkatkan zat nutrisi, untuk menjaga kualitas dan meningkatkan waktu
penyimpanan. Kemasanan makanan pintar, menggabungkan nanosensor, bahkan dapat
menyediakan informasi bagi kostumer tentang makanan yang terdapat dalam
kemasan.
Nanoteknologi
pangan diharapkan untuk menyediakan lebih banyak keuntungan potensial bagi
konsumer; namun, tidak adanya makanan yang original dalam laboratorium, sebab
itu bukanlah makanan konvensional. Masyarakat umum lebih memilih makanan
tradisional dan natural dibandingkan dengan non-food (yang tidak
konvensional atau merupakan hasil rekayasa peneliti). Lebih lagi, telah jelas
bahwa nanopartikel, dikarena ukurannya yang kecil, bisa mencapai sistem
peredaran darah manusia kemudian ke jaringan, ditempat yang tidak seharusnya
ada nanopartikel tersebut. Nanopartikel juga dapat berdampak pada sistem
biological dan dampak jangka panjag dari partikel-partikel ini belum diketahui
secara luas. Ilmuan pangan memiliki kewajiban untuk mengatur tingkat keamanan
setinggi mungkin dan untuk memastikan bahwa tidak menimbulkan efek negatif pada
konsumer.
Industri pangan
harus mencapai kenyamanan konsumer dan menerima penggunaan nanoteknologi dalam
makanan. Mengomunikasikan pada kostumer mengenai keuntungan dan resiko
nanoteknologi pada maknan merupakan hal yang penting untuk meningkatkan
penerimaan konsumer. Penelitian lebih lanjut dan prosedur tes yang
terstandarisasi untuk mengkaji pengaruh dari nanopartikel pada sel sel hidup
harus dilakukan sesegera mungkin. Di masa yang akan datang, diharapkan bahwa
penggunaan nanoteknologi dalam produk makanan dapat secara luas dinikmati
konsumer diseluruh dunia.

