PENDAFTARAN ONLINE CE ANGKATAN 5

KLIK DISINI
PERSYARATAN LENGKAP: BACA LENGKAP

Labels

Pendaftaran Credit Earning angkatan 6 sudah dimulai 30/11/2016 sd 13/12/2016 *** Hadiri, sosialisasi CE KAMPUS 2 Payakumbuh 01/12/2016 *** Selamat terpilih Farid Kurniawan sebagai Cowboy Ambassador 2016 *** Selamat kepada Rima F Sebagai IP tertinngi Fakultas Peternakan *** Selamat wisuda 2016
Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 26 September 2018

ANALISA RESIKO PENGGUNAAN NANOTEKNOLOGI PADA INDSUTRI PANGAN


ANALISA RESIKO PENGGUNAAN NANOTEKNOLOGI PADA INDUSTRI PANGAN
Masalah Terbesar Untuk Hal-Hal Terkecil


Nanoteknologi merupakan teknologi yang sangat berguna dan ampun, serta meiliki kelebihan dan bahaya. Nanoteknologi membuka sebuah inovasi pada industri pangan dan berpotensi merevolusi sistem pangan (Scott, 2005). Setelah teknik genetik, nanoteknologi merepresentasikan teknologi terbaru yang berusaha memasuki bidang persediaan pangan. Beberapa peneliti telah memperingatkan bahwa nanoteknologi, memanipulasi ukuran atom dan molekul, memperkenalkan bahaya serius pada kesehatan manusia dan lingkungan. Nanoteknologi memudahkan peneliti dan ilmuan untuk meningkatkan produk pangan yang telah ada dalam rangka untuk menghasilkan produk yang lebih sehat dan bernutrisi. Tetapi, dengan tidak adanya perebatan publik, pangan yang dimanufaktur menggunakan nanoteknologi yang tidak dilabeli, mulai muncul di pasar.
Nanoteknologi menawarkan peluang baru dalam sektor pangan. Contohnya, nanoteknologi bisa mengarahkan pada pemproduksian bahan tambahan, pewarnaan makanan, rasa dan nutrisi yang lebih ampuh pada pemprosesan pangan; untuk mendesain kemasan cerdas yang dapat memperingatkan konsumer apakah makanan tidak aman lagi untuk dimakan; untuk mengembangkan sensor terbaru atau alat yang mampu unyuk memonitor hama dan perkembangan hasil panen serta untuk meningkatkan keamanan pangan dengan mendeteksi bakteri patogen yang ada didalam makanan untuk makanan yang akan dihidangkan.
Potensi aplikasi nanoteknologi melalui rantai makanan dari produski pangan utama sampai konsumsi, yang mungkin memerlukan pertimbangan pada aspek-aspek keamanan pangan yang bertujuan untuk melindungi kesehatan konsumen. (Sumber FAO dan WHO)

Meskipun nanoteknologi telah bermanfaat dalam sektor pangan, konsekuensi penuh dari penggunaan nanoteknologi masi belum diketahui. Ciri-ciri nanomaterial yang ditunjukkan hanya pada skala nano, bukan pada skala mikro dapat berujung pada hasil keamanan dan risiko yang tak terduga. Dengan demikian, produk yang berguna dari nanoteknologi bisa jadi berbahaya dan mengakibatkan masalah yang tidak diinginkan. Beberapa nanomaterial yang digunakan di industri pangan tampaknya memiliki risiko potensial terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Sebagai contoh, risiko potensial dari nanomaterial dapat terperangkap di lingkungan (udara); dan dapat merusak jaringan otak, kulit, dan paru-paru manusia (Balbus, Denison, Florini, dan Walsh, 2005).




A. Resiko kesehatan
Penggabungan dari partikel-partikel berukuran nano meningkatkan resiko pada orang-orang yang terpapar pada alat yang baru dibuat dan material yang mengandung nanopartikel. Dampak dari nanopartikel yang mana dapat langsung masuk ke dalam sel dan pada akhirnya akan mempengaruhi keberfungsian selular dari sel, tergantung pada ciri: bentuk partikel, ukuran dan permukaan. Dikarenakan ukurannya nano, partikel-partikel ini dapat bertranslokasi diantara organ setelah memasuki tubuh.
Karena ukurannya yang kecil, nanopartikel menunjukkan reaksi yang berbeda dibanging dengan zat sejenis dengan ukuran yang lebih besar, yang mana nanopartikel lebih adesif pada permukaan didalam tubuh kita, nanopartikel dapat menimbulkan dampak racun terhadap tubuh kita, yang dampaknya tidak terlihat ketika zat tersebut berbentuk zat yang lebih besar (bukan berbentuk nano), karena nanopartikel lebih mudah untuk masuk kedalam sel dibandingkan dengan partikel yang lebih besar. Penggunaan nanosilver secara umum dapat meningkatkan resiko pada kesehatan manusia dengan meningkatkan resistensi bakterial dan antibiotik sebagai mobilitas dari nanopartikel dalam tubuh manusia yang tidak diketahui. Ada 3 cara nanopartikel dapat masuk ke dalam tubuh manusia, yang pertama melalui pemaparan dermal yang mana nanopartikel bisa masuk ke dalam kulit dan berinteraksi dengan sistem imun; penelanan melalui mulut.
B. Resiko lingkungan
Penggunaan nanopartikel secara meluas, tidak hanya berdampak pada kesehatan manusia tapi juga pada lingkungan. Penggunaan nanopartikel pada industri pangan telah memaparkan pada kontaminasi lingkungan. Produk pangan yang terkontaminasi nanopartikel yang tidak sengaja terlepas ke lingkungan sebagai polutan. Polusi disebabkan oleh nanopartikel lebih sulit untuk dihidangkan karena ukurannya yang kecil, metode tradisional dan filter yang digunakan mungkin saja tidak bisa digunakan. Antimikroba nanopartikel yang paling berbahaya bagi lingkungan seperti : nanosilver, zink oksida, dan titanium dioksida, yang mana makin banyak digunakan dalam kemasan makanan.






Kesimpulan
Nanoteknologi memiliki potensi untuk merevolusi industri pangan dengan meningkatkan kualitas makanan, membuatnya lebih enak, lebih sehat dan lebih bernutrisi, untuk memproduksi produk pangan baru, kemasan baru, dan penyimpanan. Namun, kesuksesan pengaplikasian nanoteknologi pada pangan terbatas layaknya banyak pengaplikasian yang masi pada tahap dasar dan membutuhkan penelitian Lanjutan untuk mencapai potensi maksimal. Nanoteknologi dalam industri pangan bisa digunakan untuk meningkatkan warna makanan dan tekstur, untuk mereduksi lemak, dan meningkatkan zat nutrisi, untuk menjaga kualitas dan meningkatkan waktu penyimpanan. Kemasanan makanan pintar, menggabungkan nanosensor, bahkan dapat menyediakan informasi bagi kostumer tentang makanan yang terdapat dalam kemasan.
Nanoteknologi pangan diharapkan untuk menyediakan lebih banyak keuntungan potensial bagi konsumer; namun, tidak adanya makanan yang original dalam laboratorium, sebab itu bukanlah makanan konvensional. Masyarakat umum lebih memilih makanan tradisional dan natural dibandingkan dengan non-food (yang tidak konvensional atau merupakan hasil rekayasa peneliti). Lebih lagi, telah jelas bahwa nanopartikel, dikarena ukurannya yang kecil, bisa mencapai sistem peredaran darah manusia kemudian ke jaringan, ditempat yang tidak seharusnya ada nanopartikel tersebut. Nanopartikel juga dapat berdampak pada sistem biological dan dampak jangka panjag dari partikel-partikel ini belum diketahui secara luas. Ilmuan pangan memiliki kewajiban untuk mengatur tingkat keamanan setinggi mungkin dan untuk memastikan bahwa tidak menimbulkan efek negatif pada konsumer.
Industri pangan harus mencapai kenyamanan konsumer dan menerima penggunaan nanoteknologi dalam makanan. Mengomunikasikan pada kostumer mengenai keuntungan dan resiko nanoteknologi pada maknan merupakan hal yang penting untuk meningkatkan penerimaan konsumer. Penelitian lebih lanjut dan prosedur tes yang terstandarisasi untuk mengkaji pengaruh dari nanopartikel pada sel sel hidup harus dilakukan sesegera mungkin. Di masa yang akan datang, diharapkan bahwa penggunaan nanoteknologi dalam produk makanan dapat secara luas dinikmati konsumer diseluruh dunia.

0 komentar:

Posting Komentar